Sepeninggal Rasul Saw terjadi perbedaan pendapat di kalangan umat yang
terdiri atas kaum Anshar dan Muhajirin dimana masing-masing
mengunggulkan kandidat-kandidat kaumnya untuk tampil sebagai khalifah.
Dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam dituturkan bahwa pemuka Anshar,
Basyir bin Saad, menentramkan kaumnya dengan mengingatkan bahwa Kaum
Anshar membela Islam semata-mata untuk mencari ridha Allah Swt serta
sebagai bentuk ketaatan pada Rasul Saw hingga tidak pada tempatnya untuk
berebut kekuasaan dengan Kaum Muhajirin. Tausiyah yang disampaikan dengan sangat bijaksana ini akhirnya mampu mendinginkan hati Kaum Anshar.
Sementara dari kalangan Kaum Muhajirin, Abu Bakar r.a. mengusulkan untuk
mengangkat Umar bin Khattab dan Abu Ubaidah bin Jarrah untuk menjadi
khalifah pengganti Rasul Saw. Namun keduanya langsung menolak, bahkan
Umar bin Khattab langsung memegang tangan Abu Bakar r.a dan membaiatnya
menjadi khalifah diikuti oleh Abu Ubaidah, Basyir bin Saad, dan para
sahabat lainnya. Kenapa mereka begitu yakin akan hal itu?
Alasan yang mereka kemukakan antara lain karena Abu Bakar termasuk
golongan orang pertama yang masuk Islam, gigih melakukan dakwah meski di
bawah tekanan yang sangat ekstrim, dan beliau lah sahabat Rasul Saw
yang secara eksplisit namanya di abadikan dalam Al-Qur’an (lihat QS At-Taubah, 9:40). Selain itu track record
beliau sebagai orang yang ‘bersih’, berani, tegas, dan memiliki
keberpihakan pada masyarakat kecil telah diakui oleh para konstituennya
tersebut. Selain itu sifat rendah hati Abu Bakar Ash-Shiddiq pun tidak
luntur meski dia terpilih menjadi khalifah secara aklamasi. Hal ini
dapat dilihat dalam kutipan pidato paska pembaiatan beliau sebagaimana
tercantum dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam :
“Wahai sekalian manusia,
Sekarang aku telah memangku jabatan sebagai khalifah yang kalian
percayakan padaku,padahal aku bukanlah orang yang terbaik di antara
kalian. Maka bila aku menjalankan tugasku dengan baik, ikutilah
aku.Tetapi bila aku berbuat salah,luruskanlah.
Orang yang kalian nilai kuat, sebenarnya kuanggap lemah. Adapun yang
kalian pandang lemah adalah orang yang kuat dalam pandanganku. Karena
itu akan mengambilkan haknya dari orang yang kuat, insya Allah.
Hendaknya kalian taat kepadaku selama aku taat pada Allah dan
rasulNya. Tetapi bila aku mengingkari Allah dan rasulNya, maka janganlah
kalian taat padaku.
Marilah kita menunaikan shalat dan semoga Allah selalu memberikan rahmatNya padamu”
Demikianlah Khalifah Abu Bakar Ash- Shiddiq,semoga bisa menjadi
inspirasi keteladanan bagi para pemimpin dan calon-calon pemimpin bangsa
ini di berbagai level. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar