Minggu, 12 Agustus 2012

Pidato Pelantikan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq -Inspirasi


Di tengah maraknya kekurang-puasan masyarakat pada figur-figur pemimpin bangsa belakangan ini, jejak langkah para sahabat Rasulullah Saw yang diamanahi Rabb menjadi khalifah bagi kaumnya sangat menarik untuk ditelusuri kembali. Salah satunya adalah kiprah sahabat sekaligus mertua Rasul Saw, yakni Abu Bakar r.a. yang dikenal karena konsistensinya menegakkan kebenaran (sehingga beliau digelari Ash-Shiddiq) dan kedermawanannya yang luar biasa, saat terpilih menjadi khalifah pertama dalam jajaran Khulafaur Rasyidin yang fenomenal.
Sepeninggal Rasul Saw terjadi perbedaan pendapat di kalangan umat yang terdiri atas kaum Anshar dan Muhajirin dimana masing-masing mengunggulkan kandidat-kandidat kaumnya untuk tampil sebagai khalifah. Dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam dituturkan bahwa pemuka Anshar, Basyir bin Saad, menentramkan kaumnya dengan mengingatkan bahwa Kaum Anshar membela Islam semata-mata untuk mencari ridha Allah Swt serta sebagai bentuk ketaatan pada Rasul Saw hingga tidak pada tempatnya untuk berebut kekuasaan dengan Kaum Muhajirin. Tausiyah yang disampaikan dengan sangat bijaksana ini akhirnya mampu mendinginkan hati Kaum Anshar.
Sementara dari kalangan Kaum Muhajirin, Abu Bakar r.a. mengusulkan untuk mengangkat Umar bin Khattab dan Abu Ubaidah bin Jarrah untuk menjadi khalifah pengganti Rasul Saw. Namun keduanya langsung menolak, bahkan Umar bin Khattab langsung memegang tangan Abu Bakar r.a dan membaiatnya menjadi khalifah diikuti oleh Abu Ubaidah, Basyir bin Saad, dan para sahabat lainnya. Kenapa mereka begitu yakin akan hal itu?
Alasan yang mereka kemukakan antara lain karena Abu Bakar termasuk golongan orang pertama yang masuk Islam, gigih melakukan dakwah meski di bawah tekanan yang sangat ekstrim, dan beliau lah sahabat Rasul Saw yang secara eksplisit namanya di abadikan dalam Al-Qur’an (lihat QS At-Taubah, 9:40). Selain itu track record beliau sebagai orang yang ‘bersih’, berani, tegas, dan memiliki keberpihakan pada masyarakat kecil telah diakui oleh para konstituennya tersebut. Selain itu sifat rendah hati Abu Bakar Ash-Shiddiq pun tidak luntur meski dia terpilih menjadi khalifah secara aklamasi. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan pidato paska pembaiatan beliau sebagaimana tercantum dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam :
Wahai sekalian manusia,
Sekarang aku telah memangku jabatan sebagai khalifah yang kalian percayakan padaku,padahal aku bukanlah orang yang terbaik di antara kalian. Maka bila aku menjalankan tugasku dengan baik, ikutilah aku.Tetapi bila aku berbuat salah,luruskanlah.
Orang yang kalian nilai kuat, sebenarnya kuanggap lemah. Adapun yang kalian pandang lemah adalah orang yang kuat dalam pandanganku. Karena itu akan mengambilkan haknya dari orang yang kuat, insya Allah.
Hendaknya kalian taat kepadaku selama aku taat pada Allah dan rasulNya. Tetapi bila aku mengingkari Allah dan rasulNya, maka janganlah kalian taat padaku.
Marilah kita menunaikan shalat dan semoga Allah selalu memberikan rahmatNya padamu”
Demikianlah Khalifah Abu Bakar Ash- Shiddiq,semoga bisa menjadi inspirasi keteladanan bagi para pemimpin dan calon-calon pemimpin bangsa ini di berbagai level. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Shared this blog